Home / Kain Batik / Kain Batik Solo Produksi Pabrik Kainbatikbagus

Kain Batik Solo Produksi Pabrik Kainbatikbagus

Rate this post

Kain Batik Solo – Perkembangan seni rupa di Jawa sejak zaman prasejarah hingga sekarang selalu diwarnai dengan kehadiran seni dekoratif, baik sebagai elemen dekoratif maupun sebagai ekspresi estetika melalui simbol-simbol tertentu. Kain batik Solo memiliki ciri yang sangat khas, sangat berharga sebagai warisan budaya, dan memiliki peran penting untuk pembentukan citra budaya Indonesia.

Keberadaan berbagai bentuk dekorasi dipengaruhi oleh lokasi geografis, sifat dan struktur kehidupan lokal, kepercayaan, adat istiadat, lingkungan sekitar, dan kontak atau hubungan dengan daerah lain. Seperti apakah motif  yang dimiliki oleh kain batik Solo itu sendiri?

Pola Batik Kain Solo

Berdasarkan perkembangan batik di Jawa, pola batik dapat dibagi menjadi tiga elemen utama, yaitu :

  1. Motif  dekoratif utama

Motif dekoratif utama (klowongan) adalah bentuk hiasan yang menjadi elemen utama dari pola batik.

  1. Motif dekoratif isen-isen

Pola isen-isen adalah berbagai hiasan yang digunakan untuk mengisi bagian-bagian dekorasi utama.

  1. Motif Dekoratif Sebagai Pengisi

Sedangkan motif dekoratif sebagai pengisi adalah hiasan yang diletakkan pada pola latar belakang sebagai penyeimbang bidang sehingga keseluruhan pola terlihat harmonis.

Dengan berbagai cara dan berbagai penataan motif dekoratif, isen memiliki kemungkinan untuk berfungsi sebagai pengisi motif dekoratif. Motif batik Wastra terdiri dari dekorasi yang ditata dalam desain bermotif terpadu.

Secara tradisional, motif dekoratif batik bervariasi dalam jenisnya. Untuk mengenalinya dengan mudah, pola batik dapat dikelompokkan berdasarkan bentuk dan gaya. Berdasarkan bentuk atau karakter visual, pola batik di kain batik Solo dapat dibagi menjadi dua yaitu pola geometri dan pola non-geometris.

Motif dekoratif yang termasuk dalam pola geometri umum adalah motif dekoratif yang mengandung unsur-unsur seperti garis dan struktur yang meliputi :

  1. Garis miring
  2. Bujur sangkar
  3. Persegi panjang
  4. Trapesium
  5. Belah ketupat
  6. Jajaran genjang
  7. Lingkaran
  8. Bintang

Semua disusun secara berulang sehingga terdiri dari pola ceplok. atau ceplokan atau pola garis miring (slope).

Sementara pola non-geometris pada batik Jawa dibagi menjadi empat kelompok, yaitu pola semen, paru-lungan, buketan, dan pinggiran. Pola semen termasuk sebagai pola kuno, terutama pola yang mengandung dekorasi seperti elang, sawat, mirong, atau lar, yang merupakan hasil dari motif hias bergaya elang, hewan yang merupakan mitos dalam agama Hindu, yang pada masa lalu adalah khusus dekorasi untuk raja dan keluarganya. Pola paru-paru juga dimasukkan sebagai pola kuno.

Adapun untuk kain batik Solo dan Yogyakarta di Jawa Tengah menggunakan warna sogan, nila, hitam, dan putih. Adapula motif dasar relatif yang terikat pada aturan tertentu. Sementara itu, batik di Jawa Timur memiliki motif bebas tanpa terikat aturan tertentu. Hingga saat ini, Jawa Timur memiliki unit bisnis batik, kain tenun, dan bordir yang tersebar di kabupaten / kota.

Pola-pola Batik di Jawa

Berdasarkan gaya, ada dua jenis pola batik yaitu batik pedalaman dan batik pesisir. Batik pedalaman adalah batik dari keraton, yang kemudian berkembang pesat di luar tembok keraton.

Batik pesisir berbeda dari batik pedalaman karena dibuat di daerah pesisir di mana ia mendapat banyak pengaruh dari orang luar. Batik pesisir memiliki dekorasi dan warna yang mendapat pengaruh elemen budaya eksternal.

Pada awalnya sebagai pakaian, batik wastra mencakup kain panjang (jarit), sarung tangan, dan bungkus dada (kemben). Wastra adalah sebagai bentuk tambahan dari busana termasuk syal, ikat kepala (iket atau udheng), dan membawa selendang (selendang gendhongan) (kain panjang untuk membawa anak atau barang). Selain batik wastra, di istana ada batik wastra yang digunakan sebagai pakaian upacara yaitu dodot.

Kain Batik Solo

Adapun beberapa motin kain batik Solo di antaranya adalah :

  1. Parang

Motif parang muncul dalam berbagai bentuk di kain batik Solo, biasanya menggambarkan panjang yang sempit dan ujung yang hampir tajam – seperti pedang. Dalam salah satu cerita rakyat yang terkenal, pangeran dongeng Pangeran Panja Jawa diselamatkan oleh kekuatan pelindung batik parang yang ada padanya.

Dalam cerita lain, Sultan Agung Mataram merenungkan hamparan batu bergerigi di pantai selatan sebagai penjaga alami ke garis pantai. Motif parang dalam kain batik Solo menjadi simbol keamanan dan keselamatan.

  1. Kawung

Kain batik Solo juga terinspirasi oleh alam dan pola kawung adalah contoh yang bagus. Sebagai jenis pohon palem yang tumbuh melimpah di Asia Tenggara (dan secara ekonomi penting bagi kawasan ini), motif kawung juga mengandung pesan yang menggembirakan bahwa pemakainya sama bermanfaatnya dengan masyarakat seperti kelapa sawit kawung.

  1. Sekar Jagad

Upacara Jawa dipenuhi dengan penggunaan batik sebagai ungkapan cinta dan kebahagiaan. Pada pernikahan, sekar jagad, yang secara harfiah berarti bunga-bunga alam semesta dapat dikenakan oleh pengantin wanita, pengantin pria, atau diberikan sebagai hadiah kain batik Solo untuk menyampaikan pesan kegembiraan yang tulus karena telah menemukan satu sama lain.

Sementara untuk model batik pesisir hadi di daerah pesisir, terutama di Jawa Timur dan dikenal petani batik atau desa batik. Batik ini digunakan oleh para petani setelah batik sebagai mode berkembang di luar istana. Petani batik dekoratif adalah pengembangan istana batik dekoratif yang disusun oleh para petani dengan kombinasi motif dekoratif dari alam sekitar seperti tanaman dan hewan.

Petani batik di wilayah pesisir merupakan perwujudan komposisi dekoratif yang berasal dari lingkungan biota laut, antara lain alga, ikan, dan hewan laut lainnya. Warna petani batik mengacu pada warna yang ada di lingkungan.

Petani batik dari daerah pantai menunjukkan motif dekoratif yang berasal dari kehidupan laut dalam komposisi struktur pola yang bervariasi, serta warna-warna cerah, warna khas pantai. Batik di Jawa Timur memiliki perbedaan dengan batik di Jawa Tengah.

Daerah pengrajin batik di Jawa Timur yang telah tercatat memiliki sejarah memproduksi batik adalah :

  1. Sumenep (Pekandangan)
  2. Sampang
  3. Bangkalan (Tanjung Bumi)
  4. Pamekasan
  5. Gresik
  6. Sidoarjo (Jetis dan Sekardangan)
  7. Porong (Kedung Cangkring)
  8. Mojokerto (Mojosari)
  9. Jombang, Kediri
  10. Trenggalek
  11. Pacitan
  12. Banyuwangi
  13. Bondowosa (Maesan)
  14. Lumajang
  15. Tulungagung
  16. Magetan
  17. Ponorogo

Batik pesisir memiliki ciri-ciri antara lain motifnya jelas, berani, ekspresif dan naturalis; temanya biasanya tentang lingkungan; lukisan itu tanpa menggunakan mal dan pola; juga warnanya kuat sehingga tidak mudah pudar. Bahkan, warnanya bisa tahan lama karena proses pewarnaannya cukup lama dengan memasukkan kain ke dalam tong.

Batik jenis ini disebut Batik Gentongan. Teknik barel hanya digunakan untuk satu jenis warna, yaitu indigo. Disebut batik gentongan karena proses pewarnaan dilakukan di tong yang tertanam di tanah. Laras yang digunakan untuk pencelupan batik hanya ditemukan di dua tempat dan keduanya berada di Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan.

Hasil warna indigo dengan menggunakan barel berbeda; warnanya lebih utuh, tahan lama, dan sama-sama tebal. Butuh waktu empat bulan untuk proses pembuatan. Kain itu direndam, dibilas, dibiarkan sampai kering, lalu direndam lagi. Teknik ini dilakukan berulang kali.

Menemukan  kain batik dengan gaya Jawa Timur tentu akan jauh lebih sulit dibandingkan mencari kain batik Solo karena memang batik Solo ini lebih mudah untuk ditemukan di pasaran.

Anda tertarik membuat kain batik berkualitas ? Langsung saja hubungi kami Kainbatikbagus dapatkan harga spesial untuk pembelian partai besar. Untuk pemesanan segera  hubungi kami WA 0822 5959 2299

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *